[Renungan Kehidupan] Khawatir Hati Di Ujung Senja
”Ayah lamaaaa ... Farih mau pergi sendiri ajaaaa!”
Aku kaget. Anak sekarang sudah mampu menyalahkan orang tuanya sendiri dengan tanpa tedeng aling-aling padahal umur Farih baru tujuh tahun. Jamanku dulu, jangankan untuk menyalahkan orang tuaku, hanya untuk berbicara mengutarakan sesuatu dengan berani menatap langsung pun sudah menjadi sebuah keberanian luar biasa. Memandang aneh mereka artinya seorang anak telah berbuat sesuatu yang terlalu berani dan definisinya adalah tidak sopan.
Metode yang kuadopsi memang sangat demokratis untuk memberikan toleransi penuh sebuah ekspreasi natural potensi anak yang dimiliki. Semuanya dibiarkan untuk terpancar dalam perilaku dan ungkapan jiwa sebagaimana dunia anak itu berlangsung. Pada tataran perwujudan emosi dan keinginan itulah kemudian aku mencoba memainkan peran untuk menanamkan irama harmonis sebuah kehidupan. Pada tahap itulah mereka diberi arti baik buruknya sebuah perlaku sehingga mereka mampu mengerti dan menghayatinya sendiri.
Itu Teori! Dan sore itu kenyataan di dunia nyata sangatlah berbeda bagaikan langit dan bumi.
Langit Bandung baru saja berubah menjadi gelap dengan pulasan kuning keemasan di ufuk baratnya. Farih tiba-tiba menjadi beringas bagaikan seekor anak macan yang baru terlepas dari buaian induknya ke alam bebas yang sangat asing baginya. Anak sulungku yang manis bertukar menjadi sosok yang tidak bisa diajak sedikit bersabar. Seakan tiba-tiba menjadi sulit untuk menjadikan dia mengerti.
Dalam benakku, waktu dimana terjadi titik pergantian siang dengan malam ini sangatlah mengkhawatirkan. Itulah produk nyata yang selalu terngiang dalam pikiranku ketika aku menjalani kehidupan masa anak-anakku di sebuah kampung kecil yang jauh dari keramaian kota. Tempat dimana sebuah dongeng pendidikan masyarakat yang mengeksploitasi gambaran menakutkan mahluk yang akan menculik dan membinasakan semua anak yang berani bermain dan berkeliaran di saat malam datang.
Sebuah pola penanaman kedisiplinan yang bersifat result oriented yang hanya melihat kepatuhan sebagai hasil akhir. Mungkin kepatuhan ini sangat cocok untuk memaksa anak tidak berkeliaran di luar rumah. Tapi dalam proses menciptakan kepatuhan itu yang bermasalah. Sangat mengunci kreativitas dan menabrak pola pikir logis seperti jaman sekarang. Jaman dulu, ketika nalar akal belum diekploitasi benar, mungkin sangat wajar. Ditambah dengan sistem penanaman kekuasaan imprelis Balanda yang selalu menggunakan metode refresive, mitos dongen menakutkan seperti itu pun semakin tumbuh subur di tanah pemikiran orang tua dulu.
Aku bukan tidak akan mengantar dia pergi ke tempat yang diteriakan ketika aku di kamar mandi itu. Namun aku harus membersihkan badanku terlebih dahulu dan mengganti bajuku yang sudah mulai kotor sehabis bermain dengannya dan Faiz di sore itu. Saat yang menjadi giliranku bermain bersama sementara Bunda mereka pergi bertugas jaga pada jam sore di sebuah klinik pengobatan. Dan aku hanya memintanya sedikit menunggu.
Menunggu bagi Farih bagaikan menjadi sesuatu yang menyiksa. Permintaan menunggu bagaikan jarum yang menusuk seluruh permukaan tubuhnya. Kesabaran seakan menjadi sembilu tajam yang mengiris-ngiris keinginan untuk segera pergi yang meluap-luapan. Dan tiba-tiba dia pun terlihat meloncat dalam hitungan detik ke luar pintu depan terus melesat melewati pintu gerbang yang memang belum dikunci lagi setelah mereka tadi bermain di lapangan yang ada di seberang rumah.
Aku terperangah. Terkejut karena seakan melihat titisan diri saya sendiri yang sangat sering tidak sabar untuk meraih sesuatu yang diimpikan dengan rintangan apapun. Aku selalu meloncat tinggi untuk berusaha menggapaikan. Sekarangan karakter itu tiba-tiba juga menempel lekat di dalam diri Farih. Dan lebih terkejut lagi karena Farih begitu cepat menghilang di bawah redupnya langit di awal malam. Keterkejutan yang disemangati oleh naluri kekhawatiran seorang ayah. Ketakutan kehilangan anak sulungnya ditelan ganasnya kegelapan malam.
Belum rapi kaos berkerah itu kukenakan namun aku harus segera melemparkan badanku melawati pintu yang sesaat lalu dilewati Farih. Kuikuti perasaan khawatirku yang telah berlari beberapa langkah di depanku untuk mencari kepastian Farih-ku aman keberadaannya mengikuti keinginannya yang sudah tidak terbendung. Dia selamat tidak seekor binatang pun yang mampu menyentuhnya. Ya ... Farih harus segera kususul!
Aku melewatkan kakiku di pintu gerbang depan sambil secara refleks kuraih handle pintu untuk kukuncikan. Namun belum pun pintu itu terkunci, sebuah panggilan terdengar dengan nyaringnya ...
”Ayah! Faiz ikuuut ...”
”Tunggu di rumah aja!”
”Ga mau, ayah!”
”Faiz temenin Anin di rumah, ya!”
”Ga mauuu ... Kakak boleh pergi, kenapa Faiz ga boleh?”
Tambahan beban! Hanya itu yang terpikir olehku saat itu. Belum lagi bayangan Farih pun terkejar, sekarang si kecil Faiz yang kusangka begitu menikmati permainannya dengan mobil Ferrari merah kecil akan mau tinggal di rumah bersama neneknya, ternyata ingin ikut. Kuturuti kemauannya, beban perjalananku semakin berat. Kutolak keinginannya, tangisan tiada henti akan hadir merobek keheningan rumah di awal malam itu dan akan mengganggu kekhusyuan ibadah neneknya.
”Ayooo... kalau mau ikut!”
Kusambar tangan si kecil Faiz yang tanpa setahuku sudah berdiri di balik pagar besi itu. Kutarik ke luar agar tidak menghalangi pintu itu kututup.
Kulangkahkan kakiku segara setelah terkunci untuk segera mengejar bayangan si sulung Farih yang sudah tidak kelihatan di ujung pandangan. Kaki pun harus semakin cepat melangkah mengejar larinya bayangan yang menjadi pangkal kekhawatiran diriku. Kekhawatiran akan terjadi sesuatu kepada anak yang kusayangi. Kekhawatiran yang semakin berwujud kepanikan.
”Ayahhh ...”
Anakku yang satu ini pun hampir kutinggalkan. Aku begitu lupa untuk berpikir dia masih begitu kecil untuk mengimbangi langkah langkah tergesa-gesaku.
”Ayah, Faiz gak kuat jalan ..”
Dari raut mukanya di remang-remang sisa sinar matahari terbenam itu kubaca keinginan dari lubuk hatinya yang sangat akan menambahkan beban fisikku. Dia ingin digendong. Ingin dibopong di perjalanan beratku. Dia memang benar, membiarkan dia berjalan sendiri artinya membuat waktu perjalanan mengejar kakak-nya menjadi sepuluh kali lebh lama. Membopongnya akan menambah beban badanku bertambah berat namun langkahku tidak akan terlalu lambat.
Kupanggul Faiz di pundakku. Itulah akhir segala pertimbangan emosi dan rasional yang kurenungkan dalam hitungan detik. Beban beratnya pun tidak lagi kurasakan. Aku berlari dan terus berlari menembus cahaya gelap awal malam. Lebih baik dari pada semakin terlambat kumenyusul kakaknya yang sudah semakin jauh.
Jarak yang kutempuh baru sekitar seratus meter, masih ada sejarak itu yang harus kutempuh. Namun bebanku rasanya semakin berat, jauh lebih berat dari hari-hari biasa melewati jalan itu. Berat pikiran yang dibalut kekhawatir keselamatan si sulung Farih yang sudah melesat jauh lebih dahulu. Berat beban fisik oleh si kecil Faiz yang dengan asyiknya memainkan ferrari merah di atas kepalaku.
Cahaya langit bertambah gelap. Pulasan kuning emang di ufuk baratnya pun semakin mengecil dan sebentar lagi menghilang pertanda gelapnya malam akan semakin dekat. Saat ini bukan mitos mahluk menyeramkan yang akan mengganggu atau menyembukan anak sulungku, namun justru tangan-tangan jahil mahluk Tuhan yang bernama manusia yang kutakutkan. Anakku bukan orang terkenal atau anak seorang milyarder, namun di jaman yang sudah serba carut marut ini keisengan oranglah yang kutakutkan. Takut anak manisku dipermainkan atau bahkan sampai hilang keberadaannya. Kekhawatiran hati diujung gelapnya langit timur.
Langit semakin gelap, udara malam mulai dingin. Cahaya temaram lampu-lampu listrik pun mulai berkelip-kelip menyinari aliran air kotor di sungai kecil yang ada di sebelah kiri jalanku. Aliran air yang lirih menambah sepinya malam dan mengiris kekhawatiranku semakin dalam. Namun aku tetap berjalan, berjalan jauh menuju tempat yang akan memberi kepastian.
Kusembrangi jembatan kecil tua yang terbujur kaku di samping GOR di tepi sungai kecil itu. Kaki pun telah melalui pijakan ujung jembatan itu. Tinggal kusembrangi jalan selebar 4 meter di depannya untuk semakin dekat dengan tempat yang diteriakan Farih tadi. Semakin dekat tempat itu kutuju namun semakin cepat detakan jantung rasa kekhawatiranku. Takut Farih tidak ada, takut dia malah pergi jauh ke tempat lain.
Pinjakan pertama tangga miring enam puluh derajat itu terasa semakin berat. Berat oleh si kecil Faiz yang semakin asyik dengan mobil mainnya, semakin berat dengan kekhawatiran akan ketidakberadaan kakaknya. Anak tangga yang hanya tidak lebih dari sepuluh pijakan pun tiba-tiba terasa menjadi ribuan jumlahnya. Ketika ujung mataku menangkap keberadaan pintu yang terbuka lebar di mesjid itu di pijakan anak tangga yang ada di tengah pun belum menghilangkan kekhawatiranku yang sangat menyesakkan nafas. Ya ... mesjid inilah tempat yang Farih teriakan akan dituju untuk bersembahyang berjamaah.
Kuberjalan semakin dekat hingga mulut pintu mesjid setelah kulepaskan alas kaki. Terlihat Farih berdiri dengan khusyunya di ujung kanan barisan pertama shalat berjamaahku. Hatiku menjadi sangat tenang. Kugabungkan diriku di barisan ketiga jamaah sembahyang itu. Sementara Faiz terus asyik dengan mainan mobilnya walaupun beberap detik sempat melakukan gerakan mulai sembahyang.
Kuala Lumpur, IPS-UM ku tercinta
01 Juni 2008

Buah apel yang jatuh dari pohon tak akan jauh berlari. begitu pun sifat anak, tak akan jauh dari orang tuanya... baik itu disadari maupun tidak disadari.
the best blog for me...
Posted by: LaraSweety | June 30, 2008 11:49 PM
bikin tegang ja ne ah..
twnya mw solat mgrb bjamaah toh..
mbo y blang..he..peace akh
Posted by: seLLa | July 10, 2008 07:52 AM