« [Renungan Kehidupan] Imam Mudaku Sakit | Main | [Renungan Kehidupan] Khawatir Hati Di Ujung Senja »

[Renungan Kehidupan] Tak Sekedar Ayah-Ayat Cinta

Jari-jarinya yang lentik terus menunjuk lagu Ayat-Ayat Cinta untuk diputar lagi di iTunes laptop-ku saat itu. Padahal lagu itu sudah bersenandung lebih dari lima kali, terus berulang dan dia pun tanpa bosan terus mendengarkannya. Setiap selesai Rossa menyanyikan lagu tersebut, dia pun kembali memintaku untuk mengulang untaian iramanya dari awal. Rasa cintaku kepadanya memaksaku untuk memenuhi rasa dahaga alunan musiknya.


Lagu Ayat-Ayat Cinta yang dia pilih serasa menjadi wakil ungkapan yang terjadi diantara aku dengannya. Puncak air kerinduan yang meluap-luap bagai mencari jalan penyaluran setelah sekian waktu tidak tertemukan. Mencari titik temu pas kekangenan rasa seirama makna dalam lagu itu, bahkan lebih jauh dari sekedar Ayat-Ayat Cinta.


Dengan penuh manja dia sandarkan kepalanya di bagian depan dada kiriku. Tercium wangi alami rambut hitam indah bergelombangnya. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya yang tidak terlalu besar dengan hangat, dia pun memandangku dengan senyum penuh keriangan. Senyum manja yang sungguh menggemaskan.


“Makasih, Ayah!”

Ungkapan kata yang menyentakku. Sungguh tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulutnya, mulut mungil seorang Faiz baru berumur 3,5 tahun itu. Kata-kata yang menyentuh hati perasaan dalamku. Kata-kata yang mengetuk naluri logika kebanggaanku sebagai seorang ayah. Kata-kata yang tak kusangka akan keluar untuk mengungkan rasa senang seorang Faiz yang telah dipenuhi keinginannya.


Kupandang anak mungil yang telah Tuhan alirkan keajaiban kehidupan di dalam dirinya setelah beberapa menit tenggelam di Februari 2006 itu. Terlihat secara fisik tubuhnya pun semakin besar. Proses alami yang akan dijalani oleh mahluk Tuhan dengan normal. Dia semakin tumbuh mengisi relung kebanggaan diriku untuk menjadi anak yang penuh harapan kehidupan. Sebagaimana harapan dan motivasi keajaiban kehidupannya yang tidak mampu dibandingkan dengan untaian berjuta-juta kata.


Dari sisi emosi pun aku sungguh mengaguminya. Perubahan yang sangat nyata sungguh terasa. Dalam batasan dunianya, Faiz sekarang sudah lebih mampu mengontrol diri dan perilakunya. Hari kemarin, aku tersenyum puas melihat dia begitu konsekwensi atas kata-katanya. Di sebuah steak house di jalan Setiabudi, dia menepati janjinya mengembalikan botol fruit tea setelah hanya benar-benar mencicipi tegukannya seperti yang dimintanya. Padahal biasanya, perlu usaha keras untuk memaksa dia untuk konsekwen dengan kata-katanya.


Faiz yang sebelumnya selalu harus selalu duduk di kursi depan, saat ini sudah mulai dapat menerima keadaan untuk harus duduk di kursi belakang. Kalau dulu cukup kebingungan membujuknya supaya mendukung kemudahanku untuk mengatur tempat duduk jika banyak orang yang akan ikut ke dalam mobil kecilku, sekarang dia dapat diminta dengan mudah untu pindah dengan sendirinya. Faiz yang sudah mampu mengatur rasa dan keinginannya, termasuk memesan kaiatsu sushi di hoka-hoka bento, salah satu restoran kesenangannya.


Aku memang sengaja duduk di kursi belakang waktu itu. Hanya untuk sekedar bercengkrama dengan Faiz juga kakaknya, Farih sepanjang perjalanan dari Rajapolah ke Limbangan serta sambil beristirahat. Walaupun mungkin sedikit bernuansi egois karena meminta Bunda mereka untuk menyetir dan duduk sendiri di depan. Aku suami kurang ajar? Mudah-mudahan saja bukan, karena aku ingin sekedar merasakan kebersamaan dengan anak-anakku yang masih kutinggal jauh di Bandung.


Bunda mereka selalu bersama Farih dan Faiz. Banyak hal yang dilalui bersama dan diamati olehnya, walaupun agak sedikit menunjukkan keegoisanku tidak mampu membantu perjuangan Bunda merawatnya sehari-hari. Perjuangan seorang bunda yang begitu berat namun selalu berujung dengan kebahagiaan dan kebanggaan. Kebahagiaan yang lebih dari sekedar sebuah Ayat-Ayat Cinta. Bagai obrolan dengan Bunda mereka di YM kemarin:


”... hari ini nda terharu”
“ knp?”
“ tiba2 pulang sekolah faiz bilang: faiz lagi sedih bunda".
“knp faiz sedih?”
“dia bilang: tadi faiz nangis disekolah, rebutan jungkitan ma ica kecil..”
”terus?”
”hebat aj, dia bisa mengungkapkan emosinya dan nda dipercaya untuk dengerin.”


Bunda Faiz memang benar kalau Faiz itu hebat! Anak sekecil itu sudah mampu menungkapkan rasa emosinya. Faiz mempunyai keinginan untuk bercerita tentang apa yang dia rasakan. Padahal bagiku di usia seperti dia, itu merupakan hal yang tidak pernah dilakukan. Sekarang Faiz sudah mampu melakukannya. Sudah mampu mengurai rasa dan emosi dia di rangkulan kasih sayang Bundanya. Dan, dia pun sudah mampu memilih kepada siapa cerita rasanya dia percayakan.


Perpustakaan IPS-UM
28 Mei 2008

                            

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://blogs.www.friendster.com/t/trackback/871450

Listed below are links to weblogs that reference [Renungan Kehidupan] Tak Sekedar Ayah-Ayat Cinta:

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .