« [Kado Ultah Istri Tercinta] Catatan Harian Seorang Suami | Main | [Renungan Kehidupan] Sebuah Makna »

[Renungan Kehidupan] Aku Benci Padamu, Senior!

Edited by: Intan Permata

Penyalaras Ide: Dewi, Mona, Gatot


Matahari hari Ahad ini sudah semakin tinggi ketika kuraih bag-pack usangku. Bukan tak mau segera ganti namun aku masih berpikir bukan saat yang tepat. Kegembiraanku bisa kuliah di Statistika-Unpad sebenarnya menjanjikan saat indah, mulai memanggul tas punggung baru, apalagi bekal hadiah uang dari bapak masih lebih dari cukup. Tapi … ya Studi Pengenalan Lapangan (SPL) dan Pra-nya inilah yang membuyarkan hasrat indah itu. Bagai terberai terbangnya sekawanan merpati indah penyantap jagung oleh seekor kucing hitam yang menakutkan. Hanya karena aku takut tas baruku dirusak acara yang banyak menyentuh tanah itu.

Tak sadar kuusap cucuran keringat yang mengalir di dahi oleh punggung tangan kiriku dan sontak kurasakan keperihan yang luar biasa. Kutatap lekat kedua punggung tanganku, sungguh mengenaskan. Tiba-tiba sudah begitu menghitam oleh gumpalan darah yang ditutupi lecetnya lapisan kulit ariku. Belum pernah punggung tangan serusak ini. Dirusak oleh bentakan perintah push-up para panitia SPL yang terkadang dimantapkan oleh tatapan tajam barisan senior dibelakangnya. Bukan aku tidak mau untuk melakukannya, karena sekarang pun aku sudah sanggup melakukannya lebih dari 200 kali dalam satu perintah. Namun semua terasa dipaksakan, tanpa alasan yang jelas. Tiada arah, bagaikan mengikut kemana saja angin berhembus. Aku tahu karena aku bukanlah seekor kerbau yang dengan mudah dicocoki hidungnya.

Beruntung siang ini olahraga dengan panitia SPL sudah berakhir. Paling tidak rasa kesal hari ini terhenti lagi. Tidak terus menembus ubun-ubun otak dan menggedornya hingga pecah. Aku bisa mengisi ruang pikiran dan rasaku dengan cerita kehidupan lain. Bukan cerita SPL yang kadang menjenuhkan. Aku pun mulai melangkah meninggalkan lapangan basket di belakang gedung D1 MIPA. Tempat penuh tetesan keringat berwarna darah, penuh keluhan mahasiswa baru, penuh teriakan panitia dan señior sekeras suara mesin mobil F1-nya Schumacer. Adalah suatu kegembiraan lebih jika dapat segera meninggalkan kawah candradimuka jadi-jadian itu. Dan sekarang pun aku melangkah setegap tentara pulang dari medan perang, senyaman langkah seorang balerina yang akan masuk panggung pentas keindahan.

“Mana Kelompok Lima, ya?” Sebuah pertanyaan dengan suara normal namun terdengar bagai petir bagiku. Pas sekali … bagaikan petir di siang bolong. Petir yang tiba-tiba memutuskan aliran listrik melodi tarian balerina dalam alam indah khayalku.

Kelompok Lima adalah salah satu predikat Panitia SPL untuk sekumpulan 6 orang maba diantara 8 kelompok maba di di jurusan Statistika-Unpad ini. Kelompok ini aku lihat sebagai representasi anak Nusantara seutuhnya. Dari paling barat adalah Marwan bin Kaseem, seorang anak Aceh yang sering dipanggil Tengku. Tampilan gayanya tak jauh dari Tengku Ryan. Namun karena lebih sering terlumuri oleh tanah merah kampus Jatinangor, ekspresi yang muncul adalah ledakan emosi berapi-api. Tak beda dengan seorang pemimpin gerakan rakyat yang ingin meraih kebebasan hidup. Pas dengan statusnya sebagai maba, begitu ingin membebaskan diri dari cengkeraman kuat kuku-kuku para mahasiswa angkatan atas.

Rizkani Chaniago, anggota kedua yang menamatkan SMA-nya di Padang. Dari namanya pun sudah menunjukkan orang Padang, selalu ada Z atau F-nya. Sorot matanya yang tajam dan terkesan galak. Termasuk galak dalam menyelesaikan hitungan, cocok dengan jurusan Statistika yang menjadi kebanggaanku saat ini. Cocok juga dengan jiwa dagang orang Minang yang harus pandai menghitung jualannya. Tapi jangan sampai meminta Uni, demikian aku memanggilnya, menghitung berulang-ulang, takut hasilnya berbeda. Persis seperti pelayan rumah makan Padang yang memberikan jumlah yang berbeda kalau diminta menghitung ulang seluruh makanan yang telah dinikmati. Itu pula yang menjadi guyonan utama Sekar Wulandari, anak SMA 3 yang nyasar jurusan karena katanya salah menuliskan kode di formulir SPMB. Anak ber-NEM 57,89 campuran bapak Bandung dengan ibu Malang yang akan lebih banyak diam dan cenderung panik kalau ditekan senior. Pas dengan persepsi orang umum kalau anak SMA yang gedungnya berada di jalan Belitung itu memang cerdas.

“Orang Mbandung, kita dipanggil ama senior!”. Setengah berbisik anak Yogya bernama Raden Mas Bambang Trisasongko memberitahuku. Keanehan dia adalah selalu memanggil teman-temannya dengan nama asalnya, walaupun kadang salah. Anak yang juga suka melafalkan namanya sebagai ‘Mbambang’ itu, sedikit mendorong tubuhku. Sifatnya yang sedikit bergerak lambat karena mengadopsi budaya Solo, tiba-tiba menjadi beringas memaksaku maju. Mungkin kadar keletihan fisik dan mentalnya hari ini tersulut teriknya sinar matahari yang hampir tepat tegak lurus di ubun-ubun menghilangkan sopan santunnya sebagai titisan jauh darah keraton Solo.

Sementara terlihat tetap berdiri tegak disampingnya, Raymond Nere, seorang anak keriting ikal yang hanya dia mengalahkan kehitaman kulitku. Seorang anak Papua yang mengaku kerabat dekat pemain sepak bola nasional Rully Rudolf Nere yang berasal dari Persipura Jayapura. Dia lebih banyak menjadi anak pendiam karena masalah komunikasi. Atau mungkin juga masih shock melihat kota Bandung. Sedangkan di SMA-nya di Jayapura, dia terbiasa dalam kehidupan hutan perawan. Tapi kalau soal emosi, raut mukanya yang hitam pun mudah dibaca.

“Hey ... Tata! Kamu sini!!”, kalimat berikutnya dengan intonasi yang lebih keras. Serasa menambah hitam awan ketidakberuntungku siang itu. Jauh lebih hitam dari kulit Raymond.

“Kenapa lagi suara itu memanggilku?!”, hatiku pun ikut menggerutu. Lalu kupandangkan wajahku ke empunya suara.

Oh … My God! Tiga meter di sampingku ternyata sedang berdiri seseorang yang pernah menghilangkan selera kegembiraanku di jurusan ini. Terjadi sudah hampir sebulan yang lalu namun tetap menjadi nightmare buatku. Masih terbayang bagaimana dia mengacak-acak, merobek-robek  serta menghamburkan yertas-kertas surat lamaran itu ke atas kepala aku dan maba lainnya yang duduk bersimpuh di lantai sedangkan dia dan senior lainnya berdiri berkacak pinggang dengan gagahnya. Ganas! Bagaikan kawanan tentara yang berhasil menawan musuhnya. Kalau di antara itu tidak ada surat dengan tulisan tanganku yang kuulang berkali-kali di malam sebelum penyerahan, mungkin tidak akan terlalu berbekas. Berulang kali surat itu kutulis karena konsentrasiku yang parah karena kambuhnya penyakit asmaku.

Kang Haris! Begitu mahasiswa lain memanggilnya. Sebuah nama yang mampu menyulut mahasiswa lain untuk ikut mengeroyok emosi dan psikologis mahasiswa baru karena kesalahan sepele di tulisan surat lamaran untuk menjadi anggota Himasta, Himpunan Mahasiswa Statistika. Kata-kata bijak penuh wibawa Kang Mulya, sang Ketua Himasta, di penutup acara pun rasanya tidak mampu merubah gerakan partikel ketidaksenanganku kepada senior yang satu ini. Partikel dalam rasaku masih antagonis, tidak harmonis, bahkan mungkin lebih antagonis di siang ini. Tidak peduli apapun! Walau pada kenyataannya senior ini menjadi salah satu tutor mata kuliah Metode Statistika dan Laboratorium Statistika.

“Tata! Kamu Ketua Kelompok Lima, kan?” Dia mengungkapkan sebuah pertanyaan retoris yang kutangkap dengan penuh kesia-siaan belaka. Sia-sia karena pasti dia sudah tau pasti. Dia adalah Penasehat Kelompok Lima. Sebuah jabatan sosial yang dibuat oleh Panitia SPL selain dua orang Pendamping Kelompok. Aku tidak peduli! Malah tidak pernahnya dia memberikan nasehatnya setelah tragedi surat lamaran kepada Kelompok Lima seakan menjadi berkah bagiku. Namun sekarang, dia belum bicara banyak pun sudah memberikan rona sia-sia yang kedua. Posisiku sebagai Ketua Kelompok Lima, Kelompok Nusantara.

Jabatan Ketua Kelompok adalah sebuah jabatan yang menurutku lebih menyedihkan daripada jabatan sosial sebagai Ketua RT yang tidak ada honornya. Menjadi ketua di kelompok ini hanya terasa menjadi kambing hitam ketidakcocokan perilaku maba dengan angan-angan senior yang tidak jelas langit tempat menggantungkannya. Kadang menjadi keranjang sampah penampung segala sumpah serapah hingga kata-kata dari kebun binatang sekali pun. Sebuah jabatan dengan aspek psikologis yang mampu menggiring diri ke tingkat kepuasan emosi yang terendah.

Bagiku, konspirasi anak-anak Nusantara Kelompok Lima memilihku menjadi pemimpin mereka bukanlah kesalahan yang tidak termaafkan. Mereka memilih secara manusiawi. Memilih untuk menghindari resiko hidup yang tidak jelas. Ya ... resiko menjadi ketua kelompok memang tidak jelas. Tanpa berkata aku sudah dapat membaca raut muka mereka memintaku sebagai mahasiswa lokal melindungi mereka yang jauh dari dunia kecilnya. Menjadi ketua diantara mereka.

Haruskah aku menyesali dianggap mahasiswa lokal karena aku lahir di Tasikmalaya? Kota dimana aku pernah menghirup debu letusan gunung Galunggung-nya, dan karena kota itu pula aku terjerembap ke jabatan yang tidak diinginkan oleh satu orang maba-pun di kelompokku. Rasanya tidak perlu karena aku cukup terhibur karena sebulan sudah terbukti pembelaan dan kesetiakawanan lima anak nusantara anggota kelompokku. Justru senior yang dihadapkanku inilah yang karena sikapnya akan mampu mempertinggi gunung es kekecewaanku dan menunggu waktu mengutuk dia menjadi monster menakutkan.

“Oke ... saya minta waktu kalian sebentar, ya!” Kalimat pertama setelah ke-6 anggota Kelompok Nusantara berdiri dihadapannya. Hampir semua membuat setengah lingkaran kecuali Raymond yang sedikit berlindung setengah badan di belakangku. Sebuah kebiasaannya untuk menjadikanku sebagai tameng. Namun ini membuatku lebih berani dihadapannya. Raymond yang tinggi besar dan juga hitam ... seakan mengatakan kalau dia akan mendukungku dari belakang.

Kupandang dengan lekat senior yang sedang berbicara dihadapanku ini. Secara fisik, tubuh yang tingginya tidak lebih dari 165 centimeter itu jauh dari potongan artis film. Rambut yang dipanjangkan seperti Diego Maradona, namun tidak pas karena tidak sama lebatnya malah cenderung acak-acakan. Kacamata besar ber-frame  plastik seakan menghancurkan pamor Christopher Reeve dalam film Superman-nya. Kombinasi baju kemeja lengan panjang hijau bermotif bunga-bunga hitam dengan celana panjang kain berwarna coklat terang seakan menambah sakit mataku. Belum lagi melihat ikat pinggang lebar ala koboi yang dikenakannya. Mataku kemudian tertunduk memandang sepatu jogging putih lecek dan sudah mengelupas di di bagian pinggirnya. Di pundak kanannya tersangkut tas kain lecek yang talinya begitu panjang, mirip dengan tas si Lupus yang terkenal di pertengan tahun 80an. Semuanya bernilai minus bagiku. Andai aku dosen, nilai akhirnya adalah E.

Mata hatiku begitu gelap, tidak mampu kumelihat hal baik dari diri Penasehat kelompokku itu. Tidak tertangkap pancaran positif sebuah aura kehidupan. Aku tercenung berpikir keras, apakah aku yang salah?! Tapi aku bukanlah orang yang mampu menerima sesuatu tanpa sebuah bukti kuat. Yang kupunya saat ini adalah ketidakmengertian mengapa begitu banyak mahasiswa lain yang bersimpati dan mau berdiskusi dengan seseorang yang tingginya tidak melebihi tinggi pemain sepakbola Argentina yang terkenal dengan julukan Gol Tangan Tuhan itu.

“Maafkan saya kalau sampai saat ini belum sempat untuk ngobrol dari hati ke hati … ehmmm … tentang segala hal yang berkaitan dengan kegiatan SPL ini”. Prolog selanjutnya yang saya rasakan datar, tidak bermakna apa-apa.

“Saya sebenarnya malu belum mampu menjalankan tugas seperti apa yang diminta oleh Panitia. Seminggu ini saya terlalu sibuk dengan diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan analisis data dari salah satu dosen kita. Saya begitu egois untuk melakukannya karena saya memperjuangkan hidup saya sendiri”. Aku pun tidak mau peduli dengan maksud kata-kata itu semua.

“Rasanya besok Senin adalah waktu yang tepat untuk bertemu. Kata Panitia besok ada Lokakarya yang membahas tugas ilmiah kalian sampai jam 11 siang. Saya juga besok ada di sini, di Lab Komputer D1. Jadi kita akan bertemu besok. Mudah-mudahan saya dapat berinteraksi secara konstruktif dengan semuanya di kelompok ini. Kelompok yang penuh keragaman, paling tidak berasal dari berbagai daerah. Sekian dulu aja, sampai jumpa besok. Terima kasih atas waktunya”. Penutup yang cukup pas sebenarnya dan masuk ke dalam nalar otakku. Namun hasrat tarian ballerina-ku kembali muncul untuk segera balik kanan menuju kost-an. Musik kedamaian pun mulai mengiringi langkahku …

“Maaf bentar …!!!” Tiba-tiba permintaan sang penasehat kelompokku mematikan irama musik kebebasanku. Dan selanjutnya dia bilang: “Sekar, sebentar! Kamu orang Bandung kan? Besok tolong bawa Silver Queen buat saya, ya!”

Darahku mendidih mendengar permintaan itu. Permintaan itu bagai pemerasan penguasa imperialis kepada rakyat lemah sebuah negeri jajahan. Aku merasa tertindas. Refleks kubalikkan badanku. Akan kutumpahkan didihan darah yang terasa walaupun hanya dengan protes keras. Namun terhalang badan hitam Raymond yang seakan memintaku untuk tenang. Tidak memperumit permasalahan, hanya memperkeruh semua kebencian hatiku yang mereka tahu pasti, karena telah kubeberkan semua kekisruhan perasaanku terhadap senior yang satu ini, termasuk aku didiskualifikasi dari kegiatan SPL. Aku sudah siap resikonya, sudah siap melangkah dengan senyum meninggalkan medan perjuangan. Aku tidak akan menunduk malu bagai pemain sepak bola yang diberi kartu merah. Malah akan kutunjukkan inilah aku yang tidak ingin ditindas. Aku pun tidak takut karena aku tahu beberapa mahasiswa yang tidak masuk menjadi anggota Himasta pun masih bisa belajar normal.

Irama musik tari baletku tidak terlalu bersenandung dengan mulus. Perjalanan dari gedung D1 ke gerbang kampus di depan kantor Kecamatan Cikeruh pun terasa hambar. Tanjakan kenangan di sebelah gedung Pusat Sastra dan Budaya Jepang, GOR di sebelah kanan setelah bulatan di tengah-tengah jalan, juga tanah kosong dengan rumput menyedihkan untuk lapangan bola, semuanya kulewati tanpa senandung kenikmatan. Aku hanya terkurung rasa kekesalan. Beruntung deretan warung di depan gerbang kampus serta kantor kecamatan itu segera menyambutku. Semuanya bagai menyapaku, menghiburku dengan sambutan keakraban.

Namun sia-sia, aku masih terlena dengan ketertekananku dan semakin tertekan ketika kutahu Sekar hanya menyisakan selembar uang lima ribuan didompetnya. Untung aku masih menyimpan beberapa lembar uang dengan gambar Pak Harto tersenyum dan meminjamkannya kepada Sekar. Sebagai wujud solidaritas kepada bawahan termasuk ikut membeli 2 batang coklat yang masing-masing berharga 1.750 perak itu. Belum tentu kumakan namun paling tidak bisa menjadi pelampiasan emosiku kalau kuterkurung oleh bayangan sang penasehat kelompokku itu. Kuberdoa coklat itu akan memberikan kebaikan bagiku.

-----

Pukul 11.05 acara lokakarya selesai. Bagaikan aliran air yang menghambur deras ketika pintu bendungan air dibuka, begitulah terpencarnya para maba setelah mengikuti lokakarya tanpa henti dari jam 8 pagi. Seakan menunjukkan semuanya ingin menghirup udara bebas kehidupan, yang bebas dari partikel dan debu kotor kenyamanan.

Aku hanya mampu berjalan lunglai tanpa menaikkan semangat hidup. Berjalan dari gedung D2 ke gedung D1 tanpa rasa. Jiwaku bagai melayang kemana-mana sedangkan raga bergerak menyusuri tanah tanpa rasa. Keberadaan rasa yang memang sejak siang kemarin berada di titik yang menuju ke puncak tertinggi kekecewaan. Termasuk beberapa kebodohan teknis yang kulakukan sewaktu presentasi di lokakarya tadi. Semua karena kecerobohan akibat tidak mampunya sebuah konsentrasi menangkal serangan pemecahbelahan kekuatan pikiran.

Semuanya sudah menumpuk dan sumber semuanya adalah sang penasehat kelompokku yang tidak ada sedikit pun sinyal positif yang tertangkap di area sadarku. Yang sudah tertangkap adalah kondisi labilku oleh ke-5 anggota Kelompok Nusantara. Semuanya sepakat, aku harus menahan diri. Ya ... demi kalian, aku akan diam!

Beruntung aku dan kelompokku tidak perlu bersusah payah mencari sang penasehat. Dia sudah menunggu di depan pintu gedung D1. Rambut dan kacamata masih seperti kemarin. Hanya penampilannya sedikit berbeda. Hari ini dia menggunakan baju semeja lengan panjang biru muda bermotif garis tipis dipadu celana kain biru tua yang diikat oleh tali pinggang kulit. Kakinya pun mengenakan sepatu kulit hitam yang masih terlihat bekas sapuan semirnya. Aku mencoba tidak terus mengikuti arus perjalanan pikiran ini. Cukup hanya mengikuti ajakan dia untuk duduk melingkar di bawah pohon besar di depan kampus dan berumput tebal di sekelilingnya. Udara yang panas siang itu menjadi sedikit teduh setelah berada di bawahnya. Bagiku tetap hatiku tidak teduh. Bahkan siap untuk menyerah kalah, mundur dari SPL. Menghindari sebuah wajah yang saat ini duduk di dekatku.

“Coba kita duduk melingkar ya! Tapi bebas aja lah ... ga perlu rapi amat.” Instruksi awal yang sangat lembut berbeda dengan intonasi kata-kata sewaktu tragedi surat lamaran dulu. Hah? Apakah aku mulai terhipnotis?

“Sekar, keluarkan coklat yang saya pesan …” Semua mata tertuju ke arah Sekar, seakan mengikuti luncuran kata-kata sang penasehat menuju ke arah Sekar. Termasuk aku yang duduk di sebelahnya. Tetapi wajah lugunya berubah menjadi pucat pasi. Kubaca makna kepucatan wajahnya. Kutahu dia lupa memindahkan coklat itu dari tas birunya kemarin karena hari ini tasnya kuning. Kutarik tas tuaku dan kubuka.

“Nih … pikun amat sih! Tadi kan kamu titipin di tas ini” Kusodorkan sebatang coklat yang kubeli kemarin. Sekar tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk meraih coklat itu.

“Tata! Sini … berikan kepada saya! Lama amat sih …” Sang penasehat setengah merebut coklat itu dari tanganku. Aku terkejut. Sekar melongo. Tengku, Uni, Bambang dan Raymond pun menatap tak berkedip.

“Sorry! Saya tidak sabar. Makasih Sekar telah membelikan coklat ini” Sebuah ucapan terima kasih seperti basa-basi tuan tanah yang telah merampas harta kekayaan orang lemah karena tak mampu membayar utang. Terbayang nanti dia akan menikmati coklat itu dengan segala kenyamanan. Mungkin juga akan dia hadiahkan untuk temannya atau seseorang lainnya. Yang jelas, kalau tidak dia makan sendiri, akan diberikan atau makan bersama-sama orang terdekat dan terbaik baginya. Akh … persetan semua! Bagaimanapun, di sini aku dan teman-teman telah menjadi korban penindasannya.

“Lihat coklat seharga 1.750 ini! Sekar, betul harga segitu, bukan?” dia mencoba menegaskan

“Iya, Kang!” Sekar mengiyakan dengan setengah hati. Kemudian sang penasehat pun melanjutnya kata-katanya.

“Hanya sesuatu yang seakan tidak berarti apa-apa. Tapi dapat menyatukan kita bersama. Sekar mungkin di Bandung bisa tiap hari membeli dan menikmatinya. Tapi coba renungkan apakah Tengku atau Raymond bisa menikmatinya setiap hari? Di Aceh dan Papua belum tentu tersedia sebanyak di sini. Ok ... Uni yang paling pandai membagi ... coba bagikan coklat ini kepada semua di sini. Makanlah bersama-sama sebagai wujud kebersamaan kalian. Sekar uang 1.750-nya saya gantiin ya! Lebihnya diambil aja untuk keperluan kelompok. Juga untuk minumnya saya sudah beli teh kotak dingin ini ... Sebagai syukuran saya karena telah menerima honor analisis data kemarin. Mari kita makin kokohkan kebersamaan di Kelompok Nusantara”

Dia letakkan selembar uang 10.000 di hadapan Sekar. Sedetik kemudian dia keluarkan satu keresek berisi teh kotak dingin yang diselimuti tetesan air di luarnya. Kemudian dia sibuk mengelap buku Introduction to Stochastic Process yang terbasahi tetesan air dari teh kotak. Pertanda begitu baiknya perlakuannya dalam merawat sesuatu.

Kupegang potongan coklat bagianku. Potongan dari sebatang coklat yang kemarin kuberdoa mendapat manfaat kebaikan dari keberadaannya. Siang ini kebaikan itu telah mulai datang. Yang mungkin menjadi bukti awal kesalahan anggapanku. Tetesan air teh pun meluncur deras mendamaikan gejolak rasa di dalam hati. Tetesan air yang menjadi sumber panas melelehkan gunung es kebencianku. Di kelopak mataku, tak kusadari, ada genangan air mata yang siap tertumpah. Namun, masih kucoba untuk menahannya. Walaupun tetesan itu tidak akan terasa membuat pedih luka-luka push-up di punggung tanganku.

Hitungan menit-menit berikutnya, sang penasehat kelompokku sekan menyihir otakku untuk menerima deretan kalimat-kalimat jelas dalam struktur yang indah. Deretan kalimat tentang statistika, himasta dan segala kegiatannya. Semuanya seakan sudah menjadi darah mengalir dalam dirinya. Semua dialirkan dengan pandangan dari sisi makna yang dalam dan mengapa ada sekelompok orang menentangnya. Duhhhh … kenapa aku jadi terlena. Bagai terbuai angin sejuk ketika aku membaringkan diri di atas kedamaian padang rumput yang hijau …

Sekarang ada sesuatu yang terasa mulai lagi mengalir secara alami. Bagaikan air sungai yang jernih mengalir dengan tenang namun pasti menuju lautan lepas kedamaian yang luas. Menggiring semua perjalanan hidup melalui alurnya. Semua akan terbentuk alami walau kadang kita tidak tahu seperti apa bentuknya nanti. Termasuk ketidaktahuanku kalau ternyata persis 4 tahun 3 bulan setelah hari tetesan dingin itu menyentuh kerongkonganku, sang penasehat kelompokku meminang Sekar yang juga ternyata memupuk simpati dari mulai memori coklat itu.

Oh … andaikan aku pun seorang perempuan, mungkin aku akan menjadi pesaing Sekar untuk dipinangnya.

Aku tidak jadi membencimu, Senior!

Kuala Lumpur, 19 April 2008

                            

Comments

skrg SPL anteng adja kq kang...

Wedew kang...kritik dan saran ni..warna fontny gelap..siwer mata saya ngebaca dari hape..kali2 aj ad org lain yg bc lwt hape jg

Wedew kang...kritik dan saran ni..warna fontny gelap..siwer mata saya ngebaca dari hape..kali2 aj ad org lain yg bc lwt hape jg

SPL?
Aku paling males ketemu Ananta. Kalo ada Ananta, sebisa mungkin jangan sampe terlihat sama dia. Bukan karena takut disuruh jalan jongkok atau scot jump. Tapi karena dia paling suka ngerjain aku di depan kelas. Sepertinya dia pengen banget lihat aku bete kemudian nangis. Bete sih iya, super bete malah, tapi kalo nangis mah sorry la ya.

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .